KENAPA TERJADI PERANG RUSIA VS UKRAINA?
Penulis: Siti Jamilah | Editor: Dian Rohmansa
Bogor – (Jejak Pers). 26/02. Kamis 24 Februari 2022 Rusia telah melakukan invasi dan mampu menduduki dan menaklukan Kiev Ibu kota Ukraina. Dilansir dari Liputan6.com tercatat 136 korban jiwa dari rakyat Ukraina. Berita perang antara Rusia dan Ukraina menghiasi media dalam dan luar negeri bahkan ramai di media sosial. Konflik ini tentu saja berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia Pengamat Hubungan Internasional Dinna Prapto Rharja mengatakan “harga komoditas seperti migas melambung” ujarnya. Selain migas, harga emas akan melonjak naik, akan tetapi bursa saham dan Bitcoin yang menurun drastis. Selain itu ada kemungkinan supply chain dan ekspor Indonesia ke Rusia dan negara Uni Eropa akan berdampak, sebab di sana harga-harga di sana sudah meningkat cepat. Dan yang paling mengerikan adalah memicu perang dunia III. Pasalnya tak hanya melibatkan dua negara tetapi melibatkan Amerika Serikat dan NATO (North Atlantic Treaty Organization) yang akan turun tangan. Kenapa ya Rusia menginvasi Ukraina? Yukk kita cari jawabannya!
Sejarah Konflik antara Rusia dan Ukraina
Dilansir dari detik.com Sekitar 1200 tahun lalu, Rusia, Ukraina dan Belarusia lahir di tepi Sungai Dnieper di Kievan Rus. Kievan Rus adalah negara adikuasa pada abad pertengahan yang mencakup sebagian besar Eropa Timur. Tetapi Rusia dan Ukraina memiliki banyak perbedaan dari bahasa, budaya, sejarah hingga politinya.
Saat perang dingin sebelum tahun 1990, Hubungan Rusia dan Ukraina sebagai sekutu kuat dan bersatu dalam sebuah negara federasi bernama Uni Soviet. Negara komunis terkuat di zaman Perang Dingin.
Setelah Jerman kalah di Perang Dunia II, Uni Soviet memiliki pengaruh di Eropa Timur. Maka tak heran jika negara-negara di benua Eropa bagian Timur menjadi negara komunis. Uni Soviet dan China adalah musuh dari Amerika Serikat dan negara barat lainnya dalam Perang Dingin. Pada era Perang Dingin negara komunis digolongkan sebagai Blok Timur, sedangkan negara anti komunis berada di Blok Barat.
Amerika Serikat mendirikan NATO untuk melawan negara komunis di sekitar Eropa, sedangkan di sekitar Asia Tenggara membentuk SEATO (South East Asia Treaty). Uni Soviet dan sekutunya pun tak tinggal diam, tepat 14 Mei 1955 membentuk Pakta Warsawa.
Setelah munculnya pakta-pakta antara Blok Barat dan Blok Timur, terjadi perlombaan senjata antara kedua kubu. Bahkan antara kedua blok terlibat perang saudara di Asia dan Afrika. Tahun 1991 Uni Soviet dan Pakta Warsawa bubar tetapi NATO tidak pernah bubar.
Rusia sebagai Inti dari Uni Soviet tetap menjadi negara besar dan kuat. Presiden Vladimir Putin terlihat menakutkan bagi negara-negara barat. Bahkan Putin beberapa kali mengklaim bahwa Ukraina dan Belarusia adalah bagian dari peradaban Rusia. Namun klaim tersebut dibantah oleh Ukraina.
Permusuhan Amerika Serikat dengan Rusia masih membara. Rusia yang merasa pernah bersekutu dengan Ukraina dalam Uni Soviet tampak cemburu dengan kedekatan Ukraina dengan negara barat. Tentu saja Rusia meradang.
Ukraina melakukan dua kali revolusi pada tahun 2004 dan 2005 untuk menentang supremasi Rusia. Akhirnya masa antipemerintah berhasil menggulingkan mantan presiden Ukraina yang pro-Rusia yakni Viktor Yanukovych. Revolusi juga membuka keinginan Ukraina juga terus mencari jalan agar bisa bergabung dengan Uni Eropa (UE) dan NATO.
Dikutip dari Al-Jazeera, Vladimir Putin menolak keras langkah tersebut dan meminta Ukraina mengurungkan niatnya. Karena bila Ukraina bergabung dengan NATO maka prospek berdirinya pangkalan NATO tepat di sebelah perbatasannya. Hal ini juga bisa membuat negara Eropa Timur dengan NATO akan makin erat, misalnya Polandia dan negara-negara Balkan. Saat Yanukovych jatuh, Rusia menggunakan kekosongan untuk mencaplok Krimea dan mendukung separatis di provinsi tenggara Donetsk dan Luhansk untuk menentang Ukraina.
Timeline Rusia Serang Ukraina
Dilansir Al-Jazeera, berikut timeline terjadi konlik Rusia dan Ukraina:
- November 2021: Satelit memperlihatkan penumpukan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina. Ukraina menyebut Rusia telah memobilasi 100.000 tentara bersama tank dan perangkat keras militer lainnya.
- 7 Desember 2021: Presiden Amerika Joe Biden memperingatkan Rusia tentang sanksi ekonomi dari Barat jika menyerang Ukraina.
- 17 Desember 2021: Rusia mengajukan tuntutan keamanan yang detail kepada Barat, termasuk menghentikan semua aktivitas militer NATO di Eropa Timur dan Ukraina. Rusia juga meminta NATO tidak pernah Ukraina dan negara-negara bekas Uni Soviet sebagai anggotanya.
- 3 Januari 2022: Bidan meyakinkan Presiden Ukraina bahwa Amerika Serikat akan menindak tegas jika Rusia berani menginvasi Ukraina.
- 10 Januari 2022: Pejabat Amerika Serikat dan Rusia bertemu di Jenewa Swiss untuk membicarakan diplomatik namun gagal. Rusia mengulangi tuntutan keamanan yang tidak bisa diterima AS.
- 24 Januari 2022: NATO menempatkan pasukan dalam keadaan siaga dan memperkuat kehadiran militernya di Erpa Timur dengan leboh banyak kapal dan jet tempur. Beberapa negara Barat mulai mengevakuasi staf kedutaan dari Kyiv dan AS menempatkan 8.500 tentara dalam siaga.
- 26 Januari 2022: Washinton memberikan tanggapan tertulis terhadap keamanan Rusia, mengulangi komitmen terhadap kebijakan “pintu terbuka” NATO sambil menawarkan “evaluasi yang berprinsip dan pragmatis” atas keprihatinan Moskow.
- 27 Januari 2022: Biden memperingatkan kemungkinan invasi Rusia pada Februari.
- 28 Februari 2022: Vladimir Putin mengatakan tuntutan keamanan utama Rusia belum ditanggapi tetapi Moskow siap untuk terus berbicara. Presiden Ukraina memperingatkan negara Barat untuk menghindari menciptakan kepanikan yang berdampak terhadap perekonomian Ukraina.
- 31 Januari 2022: Amerika Serikat dan Rusia berdabat tentang krises Ukraina pada sesi tertutup khusus Dewan Keamanan PBB. Inti dari pertemuan ini antara lain:
• Duta besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield mengatakan kepada dewan bahawa invasi Rusia ke Ukraina akan mengancam keamanan global.
• Utusan Rusia untuk PBB Vasily Nebenzya menuduh Washinton dan sekutunya mengobarkan ancaman perang, dan Rusia terus menyangkal tudingan rencana invasi. “Diskusi tentang ancaman perang sangat prookatif. Anda menyerukan ini. Anda ingin itu terjadi?” Kutipan langsung Nebenzya.
Dilansir dari Liputan6.com, terkait konflik antara Rusia dan Ukraina, Ketua DPR Puan Maharani mengingatkan Indonesia sebagai negara bebas aktif. Namun, ia menyerukan agar perang dihentikan untuk menghindari kekerasan terhadap umat manusia. “DPR meminta pemerintah Indonesia dengan bebas-aktif mendorong terciptanya perdamaian dunia, melalui berbagai forum internasional, sesuai amanat konstitusi”, ujar Puan.
“Hentikan perang! perang hanya menyisakan abu dan arang bagi yang melakukannya dan manusia yang menjadi korban”, tegasnya. (SJM)
Referensi
Nila Chrisna Yulika. 2022. Perang Rusia Vs Ukraina, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?. Liputan6.com. Edisi 25 Februari 2022. 13.52 WIB. Diakses 25 Februari 2022. https://www.liputan6.com/news/read/4897182/perang-rusia-vs-ukraina-apa-dampaknya-bagi-indonesia
Seti Oktarianisa. 2022. Kronologi & Penyebab Mengapa Rusia Menyerang Ukraina. CNBC.com. Edisi 25 Februari 2022. 06.10 WIB. Diakses 25 Februari 2022. https://www.cnbcindonesia.com/news/20220225052726-4-318218/kronologi-penyebab-mengapa-rusia-menyerang-ukraina
Penyebab Konflik Rusia dan Ukraina Sebenarnya apa? Ini Runtutnya. 2022. Detik.com. Edisi Selasa Febuari 2022. 12:15 WIB. Diakses 25 Februari 2022. https://news.detik.com/internasional/d-5943005/penyebab-konflik-rusia-dan-ukraina-sebenarnya-apa-ini-runutannya
Komentar
Posting Komentar