Budaya Pendidikan di Zaman Now Sebuah Refleksi Pemikiran Gus Udin


 Oleh: Saepudin Muktar alias Gus Udin (Dosen Universitas Djuanda Bogor)

Pada sebuah kesempatan berdiskusi dengan Saepudin Mukhtar alias Gus Udin, merupakan kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliau mengatakan bahwa suatu bangsa akan diakui eksistensinya apabila bangsa tersebut mampu menciptakan suatu kondisi masyarakat yang maju dan sejahtera. Dalam hal ini pendidikan menempati posisi strategis untuk menciptakan masyarakat yang demikian. Namun suatu bangsa juga membutuhkan kondisi harmonis dalam kehidupan rakyatnya, sikap toleran, jauh dari konflik dan lain sebagainya. Bangsa Indonesia yang plural dari berbagai aspek kehidupan, baik agama, bahasa, suku dan budaya. Kondisi pluralitas ini membutuhkan suatu pijakan moral yang kuat dari warga masyarakatnya. Untuk membentuk akhlak atau moral masyarakat, maka agama memainkan perannya sebagai sistem nilai dalam membentuk akhlak mulia masyarakat dari pembentukan individu yang baik, yang sejalan dengan tujuan dan fungsi agama tersebut.

Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia, maka menurut Gus Udin, “Umat harus memainkan peran dalam pembentukan akhlak masyarakat Indonesia atau akhlak umat Islam. Karena itulah, pendidikan Islam harus mampu menanamkan dan melahirkan individu muslim yang baik, terlebih setelah pendidikan Islam masuk dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional” tegasnya.

Saat ini, Bangsa Indonesia sedang berusaha keras untuk mengembangkan masa depannya yang lebih cerah dengan melaksanakan transformasi dirinya menjadi “masyarakat belajar”, yakni suatu masyarakat yang memiliki nilai-nilai dimana belajar merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan setiap ada kesempatan bagi setiap warga negara. Sebagai suatu bangsa yang sedang tumbuh dan berkembang, setiap warga negara diharapkan dapat memanfaatkan waktunya yang ada untuk menambah pengetahuan dan keterampilan, sehingga upaya mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa yang sudah maju dapat dipercepat. (RI, 2003, hal. 64).

Namun hal tersebut di atas menuntut adanya pembinaan terhadap nilai dan sikap yang dilaksanakan secara seimbang antara pendidikan Cognitive (kognitif/pengetahuan/kecerdasan), Psychomotor (psikomotor/keterampilan), Affective (afektif/sikap/mental/perasaan) yang dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar oleh pihak yang berwenang, dalam hal ini pendidikan di lembaga berbasis keislaman bisa menjadi upaya untuk mengakomodir itu semua, dan dapat diidentifikasikan sebagai modal pendidikan ideal yang didambakan setiap warga negara. (RI, 2003, hal. 64).

Ciri khas pendidikan Islam lebih dari hanya sekedar penyajian mata pelajaran agama. Artinya, ciri khas tersebut bukan hanya sekedar menyajikan mata pelajaran agama Islam di dalam lembaga, tetapi yang lebih penting ialah perwujudan dari nilai-nilai keislaman di dalam totalitas kehidupan. Suasana lembaga pendidikan Islam yang melahirkan ciri khas tersebut mengandung unsur-unsur sebagai berikut: (1) Perwujudan nilai-nilai keislaman di dalam keseluruhan kehidupan lembaga; (2) Kehidupan moral yang beraktualisasi, dan (3) Manajemen yang profesional, terbuka, dan berperan aktif dalam masyarakat. (Tilaar, 2004, hal. 179).

Dengan suasana pendidikan yang demikian tentu akan melahirkan budaya yang merupakan identitas lembaga pendidikan. Otonomi lembaga pendidikan hanya dapat dipertahankan apabila lembaga tetap mempertahankan basisnya sebagai pendidikan yang berbasiskan masyarakat (community based-education) dari sini akan lahir kurikulum yang fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia baru yang demokratis. Keberadaan Islam sebagai sub-sistem pendidikan nasional perlu dipertahankan dan dikembangkan. Pendidikan Islam harus mampu memberikan sumbangan yang signifikan jika disertai dengan metodologi modern dan Islami. Untuk itu diperlukan guru yang mampu mendidik dan mengajar dengan metodologi yang sesuai dengan tantangan zaman peserta didik.

Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Bogor memberikan insentif bagi 8.447 tenaga pendidik guru dan 1.635 tenaga kependidikan honorer pada jenjang PAUD, SD, dan SMP. Juga memberikan insentif kepada guru-guru madrasah, jadi tidak ada dikotomi antara pendidik di lembaga umum, maupun lembaga pendidikan Islam. Karena itu, Pemkab berusaha agar memberikan pelayanan sebaik-baiknya untuk para pendidik, dengan harapan agar para pendidik terus meng-upgrade kompetensinya jika ditunjang dengan finansial yang baik. Ujar Gus Udin yang juga merupakan Komite Percepatan Pembangunan Strategis Kabupaten Bogor.

Dengan demikian, institusi pendidikan saat ini dituntut untuk bisa fokus pada aktifitas utama yaitu proses pembelajaran. Dan salah satu metode dalam penerapan prinsip manajemen pendidikan di zaman now menurut Gus Udin yaitu dengan prinsip kolaborasi, pendidik dengan peserta didik harus mampu membangun misi dan cara belajar yang akan dilakukan bersama agar tercapainya tujuan pembelajaran. Hal ini dilakukan dengan cara berdiskusi, tentu pendidik harus memberikan strategi jitu agar peserta didik dapat memberikan umpan balik dan bisa mengatur sendiri pembelajaran yang mereka inginkan dengan tetap mengacu pada tujuan pembelajaran.

Selanjutnya prinsip yang harus dilakukan oleh institusi pendidikan madrasah di zaman now ini yaitu “senantiasa memperbaharui program-program di lembaga, karena saat ini adalah zamannya semua informasi terintegrasi, maka semua pihakpun harus bersinergi ikut ambil bagian di dalamnya, baik dari pihak pengelola pendidikan, orang tua, masyarakat, dan juga media yang ada. Model pendekatannya juga perlu memperhatikan situasi anak zaman now, bagaimana gaya pikir dan tingkah laku mereka. Maka membutuhkan kerjasama dan saling membantu di antara seluruh civitas lembaga pendidikan” pendapat Gus Udin.

Daftar Bacaan

RI, Depag. (2003). Pola Pengembangan Pondok Pesantren. Jakarta: Ditpekapontren Ditjen Kelembagaan Agama Islam Depag.

Tilaar. (2004). Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.


Komentar

  1. Alhamdulillah kami bersyukur atas kebijakan pemerintah kabupaten dengan adanya insentive untuk kami guru PAUD tapi kami juga direpotkan dengan laporan lpj tentang insentive nya itu alangkah bahagianya seandainya tdk demikian...heheheeeešŸ˜…

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Demi Menjalankan Silaturahmi STKIP Muhammadiyah Bogor Mengadakan Tarhib untuk Seluruh Ormawa

Tak biasa-biasa

Himadikasida Menggelar Kajian Bahasa Mengenai Bahasa Serapan Asing Dalam Penulisan Sehari-hari