TETAP NYAMAN DAN AMAN SAAT BELAJAR DI PESANTREN
Dunia pendidikan kembali dicoreng oleh oknum guru yang tidak bertanggung jawab. Terjadi pemerkosaan 12 santriwati bahkan 8 orang tengah hamil dan 4 orang telah melahirkan, hal ini dilakukan oleh guru agama sekaligus pemilik pesantren. Peristiwa ini terjadi di salah satu pesantren di kabupaten Bandung tepatnya di Gedebage. Tentu saja berita ini membuat Gubernur Jawa Barat Pak Ridwan Kamil geram. Dikutip dari akun instagram resmi milik Ridwan Kamil, beliau menjelaskan bahwa kini pelaku inisial HW (36) telah ditangkap dan sedang diproses oleh pihak kepolisian, anak-anak santriwati yang menjadi korban telah diurus oleh tim DP3AKB provinsi Jawa Barat, dan pesantren tersebut telah ditutup permanen oleh Kemenag RI. Kang Emil juga meminta kepada forum institusi pendidikan untuk mengingatkan jika ada praktik-praktik pendidikan yang tidak wajar dan meminta pihak keamanan dan orang tua bekerjasama dalam menjaga putra-putrinya selama menimba ilmu di pesantren.
Berkaca dari kasus ini, kita selaku orang tua harus lebih selektif lagi saat memilihkan pesantren untuk putra-putri kita. Dilansir dari BeritaSubang.com bahwa pelaku HW melakukan pesantren gratis kepada santriwati sebagai kedoknya menarik minat calon santriwati. Saat anak ingin menimba ilmu ke pesantren merupakan suatu hal yang luar biasa, karena pendidikan agama sangat penting sebagai pondasi dasar anak menghadapi kehidupan. Khususnya di zaman sekarang, pergaulan bebas sulit terkontrol dan terkendali, misalnya maraknya free seks, narkoba, tawuran antarsekolah dan masih banyak lagi. Sehingga membuat orang tua was-was dan harus lebih waspada dan lebih tegas terhadap anak-anaknya. Pilihan menyekolahkan anak ke pesantren juga merupakan pilihan yang bijaksana, karena gerak-gerik, tingkah laku dan perbuatan anak akan terkontrol saat berada di pesantren .
Namun, ketika orang tua membawa anaknya ke pesantren bukan semata-mata melepaskan anak begitu saja, dan memercayakan sepenuhnya kepada pihak lembaga pesantren, orang tua juga harus tetap memantau perkembangan anak dari jauh. Berikut ini tips agar tetap bisa belajar dengan aman dan nyaman selama di pesantren :
1. Telusuri track record pesantren
Sebelum menentukan masuk ke salah satu pesantren, alangkah baiknya orang tua mencari tahu track record pesantren tersebut. Bagaimana sistem keamanannya, kualifikasi pengajarnya, sistem pengajarannya dan sebagainya. Lebih baik bertanya kepada alumni bagaimana sebenarnya pesantren tersbut.
2. Mengunjungi anak minimal 2 bulan sekali
Beberapa orang mengatakan bahwa jangan terlalu sering mengunjungi anak ketika di pesantren, karena akan membuat si anak tidak betah dalam pondok tersebut, namun para orang tua jangan berlindung dengan kata-kata tersebut untuk tidak mengunjungi anak. Karena mengunjungi anak sangat diperlukan agar tahu perkembangan anak ketika di pesantren, orang tua lebih baik sebulan sekali mengunjungi anak.
3. Berikan anak nasihat ketika bertemu
Pesantren bukanlah geruji besi sehingga santri tidak diberikan libur untuk menemui keluarganya, saat anak pulang dan berkumpul dengan orang tua, usahkan orang tua menanyakan kondisi fisik serta mentalnya dan berikan nasihat-nasihat ketika dia berada di pesantren. Dan berikanlah nasihat-nasihat seperti tentang bagaimana harus merespon jika ada seorang guru atau temannya akan mengajak sesuatu yang negatif.
4. Tanyakan kepada guru atau temannya tentang sikap dan perilaku anak
Seorang anak yang memunyai masalah akan lebih sering murung dan tidak ceria, orang tua bisa menanyakan hal tersebut kepada guru atau teman-teman bagaimana sikap dan perilaku anak ketika di pesantren. Jika guru dan temannya mengatakan sikapnya lebih murung padahal sang anak ketika di rumah ceria hal tersebut perlu diperhatikan dan ditanyakan secara perlahan kepada anak, bisa jadi sang anak sedang mengalami masalah dan tidak mau bercerita.
5. Ajarkan Sex Education sejak dini
Ajarkan tentang seks sejak diri agar anak mampu melindungan dirinya dari predator seksual. Anak dibiasakan untuk berani mengunggapkan isi hatinya dan kita mau mendengarkan keluh kesahnya. Dikutip dari m.merdeka.com (06/03) AMDI menyebutkan 85% pelaku kekerasan seksual anak adalah orang terdekat. Kita mengganggap orang jauh yang berpotensi menjadi pelaku kejahatan padahal kita sebagai orang tua harus lebih waspada pada orang terdekat. Bahkan banyak kasus ayah kandung, ayah tiri, paman, kakek, tetangga, dan gurunya yang tega melakukan pelecehan seksual. Kenapa hal ini bisa menjamur karena banyak anak yang bungkam karena takut dan malu. Maka, orang tua jadilah sahabat dan pelindung bagi anaknya, bila ada gelagat yang mencurigakan segera komunikasi dengan persuasif.
Nah, itulah tips agar anak tetap aman dan nyaman ketika belajar di pesantren, jangan dilepaskan begitu saja. Karena pesantren bukanlah tempat 'pembuangan' melainkan tempat menuntut ilmu agama sebagai bekal dunia akhirat jadi yang tetap harus dikontrol walaupun ada jarak yang memisahkan. Yukk lindungi putra-putri dari predator seksual lingkungannya. (PPA)
Komentar
Posting Komentar